twitter


"Masa muda .. masa yang berapi-api -H. Rhoma Irama" ucap Ikal saat Pak Balia menyuruhnya memekikkan kata-kata pelopor.

Cuplikan adegan di atas adalah salah satu dari sekian banyak adegan yang membuat saya ngakak ketawa, menangis terharu dan cengar-cengir. Setelah sukses terhipnotis bukunya, menyaksikan sendiri visualisasi tokoh-tokoh Andrea Hirata sungguh luar biasa. Oh ya saya nonton filem ini tadi malam.

Sebagai seorang Bookworm, saya sudah beberapa kali bolak-balik membaca tetralogi Andrea. Tak puas-puas rasanya, apalagi di buku Edensor, Andrea kuliah di di salah satu negeri impian saya, Prancis.

But the main point from the books are this :
Buku-buku ini mengajak saya berani bermimpi dan berani mengusahakan mimpi itu. Dibanding orang lain (Well, not all, though) saya termasuk ibu-ibu yang masih punya banyak mimpi dan ambisi.

Beberapa teman saya menyatakan keheranan karena saya masih sempat-sempatnya maksa kuliah lagi. Saya kuliah lagi memang murni ingin mendapat ilmu dan saya menikmatinya. Sepanjang hidup saya, mendapat sesuatu yang baru A.K.A belajar menjadi sebuah kenikmatan tiada tara, seumpama membaca sepanjang waktu tanpa ada yang mengganggu ..

Tapi kuliah bukan satu-satunya harapan saya yang masih ada. Saya ingin melihat dunia. Saya ingin menjejakkan kaki di tanah orang, dengan segala kebudayaan yang selama ini hanya dapat saya baca atau saya tonton saja.

Seperti orang pada umumnya, optimisme saya sejalan dengan rasa pesimis. Biaya, waktu, dan beban anak 3 adalah diantaranya.

Tapi kalau lihat Ikal dan Arai tadi malam, rasanya saya jadi semangat lagi.

This movie is extremely recommended.

Bener deh.


I feel numb ...

God please help ...


Bagi yang sudah membaca tulisan saya sebelumnya pasti sudah tahu betapa semangatnya saya kuliah. Bahkan mata kuliah anfullen (bareng anak S1 karena jurusan saya yang ga linear) pun oke-oke aja.

Namun nampaknya dua minggu terakhir saya jadi tumpul. Alih-alih semangat belajar malah terus menerus kesal pada diri sendiri karena ga ada keinginan belajar. Gara-garanya, cuma satu orang.

Saya orangnya memang ceria dan pede abis. Semua orang sudah mafhum. Namun sesungguhnya, jiwa ini rapuh (treng .. treng .. pake background lagu melow). Saya orang yang sangat sosialis (bukan yang itu, tapi), maksudnya senang berhubungan dengan orang banyak. Maka, jika ada orang yang jutekin saya, weis mati-matian saya ga bisa tidur dibuatnya.

Yang sekarang bermasalah ga tanggung-tanggung. Dosen sodara-sodara. Yak, betul, orang yang saya dengarkan kuliahnya dan yang akan memberi saya nilai nanti.

Awalnya, si dosen (kita sebut saja si X), biasa saja. Saya anggap ia baik dan lembut. Cara mengajarkannya pun enakeun. Saya suka kalau dia sudah menerangkan karena gayanya yang khas. Namun, 2 minggu belakangan ini entah KENAPA dia berubah (setidaknya menurut saya) kepada diriku ini.

Setiap saya ngomong (di kelas selalu ada diskusi) dia selalu memotong dan mengkritik. Herannya, kepada yang lain dia ga gitu. Gimana saya ga bingung coba?

Satu per satu saya putar ulang rekaman di otak saya. Apakah ada kata-kata atau tindakan saya yang dinilai minus olehnya?

Weleh, saya tidak tahu.

Pada pertemuan terakhir, entah kenapa saya merasa ia sudah menyiratkan alasan ketidaksukaannya pada saya. Sepertinya ia menganggap saya orang yang terlalu over-PD yang merasa paling bisa, padahal engga.

Onde mande .. tuesday ..

Kok bisa??

Apakah karena saya memang pede? Atau terlampau sering nyeletuk?

Haruskah saya pura-pura gugup dan malu-malu ketika akan presentasi?

Ah, kalau memang begitu alasannya (mungkin ya, kan belum tentu) alangkah piciknya ia.

Mengapa oh mengapa ia lakukan itu?

Tak tahukah ia, bahwa ia baru saja melakukan pembunuhan karakter terhadap saya? Karena sekarang di setiap kelasnya saya diam dan merasa sangat tak nyaman karena seolah ia selalu menyindir saya dalam setiap ucapannya.

Memang tak mungkin berharap pada manusia yang sama-sama suka lalai dan egois.



Barusan saya lihat berita mengenai TKW yang disiksa sampai tewas oleh majikannya orang Malaysia (yang sangat belagu dan hobi meng-klaim itu).

Saya jadi berpikir, kenapa ya rasanya orang 'indon' (I actually hate them when they use that word) yang bekerja di luar itu seperti yang tak berdaya, selalu jadi pihak penderita, yang jarang dapat pembela ..

Lalu saya berpikir lagi.

Mungkinkah karena kita termasuk bangsa yang punya watak 'nrimo'. Mayoritas kita adalah Muslim, kita diajarkan untuk tidak membalas perbuatan jahat yang orang lakukan kepada kita. Kita yang beragama Kristen pun diajarkan untuk memberikan pipi kiri setelah pipi kanan kita ditampar (kalau tidak salah begitu).

Kita orang timur. Tidak suka ribut-ribut. Senangnya berlaku ramah dan rajin tersenyum.

Mungkin ga karena itu??

Yah, itu mah perkiraan saya saja.

Kadang-kadang saya pikir; kita harus mulai bersikap.


Bagaimana mungkin, tidak tercipta orang-orang di garis keras, jika Amerika tidak terus-terusan membela tingkah laku ISRAEL yang luar biasa menjijikkan??

Saya dan Anda aman-aman saja di sini. Meski baru terjadi pergantian Presiden dan jajarannya, toh baik-baik saja.

Paling-paling gempa yang merupakan takdir Allah SWT.

Trus, orang-orang Palestina itu bagaimana?

Sementara hari ini saya lihat tentara-tentara biadab sudah mulai menembaki warga.

Duuh ...


Once, in one Elementary School, the teacher said to the whole class,

" ... God created all the existences in this world. God also created Evil, so I can assure you that God is Evil, because he is the one who created it ..."

One of the student raised his hand.

"Sir, I have question for you .."

"Yes, ...?"

"Sir, is cold exist?"

The teacher frowned, yet he answer the question.

"Yes, it is exist."

"No you are wrong Sir, because according to the physic law, cold is the absence of warm ..."

The teacher did not say anything.

"I have another question, Sir."

"Which is ...?

"Sir, is darkness exist?"

"Of course it is ..."

"No, Sir, you are wrong again .. because according the physic law, darkness is the absence of light ..."

Then the student finished his lecture by saying,

"Then Sir, when you said that God is Evil, again you are wrong, because Evil is the absence of God in your heart ..."

You know, that student is the famous scientiest:

ALBERT EINSTEIN



Bolehkah pada suatu titik kita merasa lelah dan memutuskan untuk berhenti sejenak,
untuk memahami, untuk mengerti, untuk berfikir dewasa?
Bukankah hati juga perlu istirahat?