twitter


Pagi ini seperti biasa sebelum memulai hari-hari kami yang super keren di sekolah keren, kami mengobrol ceria kesana kemari. Salah satunya, yang akan saya ceritakan di sini dialami oleh salah seorang orangtua murid kami di MI.

Ada salah seorang orangtua murid di sekolah kami (kami punya dari level TK hingga MA) yang anaknya akan melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP. Sama seperti orangtua pada umumnya, tentu beliau ingin menyekolahkan putranya itu ke sekolah "favorit", maka berangkatlah mereka ke sebuah "SMP favorit" di kota Bandung.

Sesampainya di sana, si ortu murid yang notabene adalah seorang musisi band yang terkenal di Indonesia bertemu dengan panitia penerimaan siswa baru. Singkat cerita, saya tak tahu bagaimana prosesnya karena bagian ini tak diceritakan dan memang mungkin ga rame.

So, tiba-tiba ada seorang guru (saya asumsikan dia adalah panitia penerimaan siswa baru) yang berbisik pada si orangtua murid, "Pak, kebetulan lho saya belum punya laptop .."

Anda semua pasti mengerti dengan kalimat ini. Tak usah terkecoh dengan menyangka si guru menawarkan laptop atau mengajak membeli laptop bareng-bareng. Sontak si ortu murid berpikir, "Ah, cuma laptop mah keciiil .." mungkin seperti juga orang-orang lain, beliau ingin membahagiakan anaknya walau dengan begitu.

Anda juga pasti mengerti jika saya menjadi mual mendengar cerita ini. Bagaimana tidak, seorang guru tega-teganya menjual harga dirinya dengan cara seperti itu. Dan karena saya juga guru, mmmh ... (Ya Allah, kuatkan hamba di jalan-Mu ..)

Nah, tapi cerita kita belum selesai. Si anak tiba-tiba merengek pada ayahnya untuk membeli minuman di luar. Di luar gedung sekolahlah kemudian si anak berkata pada ayahnya,
"Yah, aku ga mau sekolah di sini .."
"Loh kenapa?" ayahnya bingung.
"Soalnya aku diterima pasti karena ayah mau membelikan laptop buat si guru itu ..."

Alhasil, si anak tak jadi mendaftar ke sekolah tersebut.
Saya jadi tercenung .. si anak telah memberikan pelajaran yang begitu berharga bagi saya.
Sanggup tidak, kita sebagai orang yang lebih dewasa seperti itu??


One of my friend at school (school where I teach now), well she was teaching at school (she has moved to Bogor) asked her former students to write about their school teachers. She inspired me to write about my own teacher.

My first unforgettable teacher was Mrs. Anny at elementary school. She taught me at 5th and 6th grade. She was special for me because she is really different with my other teachers. For a teacher at that time (1980s), she was genuine. She taught many things that still peculiar at that time. I cannot recall every single thing she taught, but one word for her is : sophisticate!!

One thing I most remember about her appearance was that she always wore a pair of skin-color thighs. When I was that age (9/10 years old) it was quite odd to see a woman with thigh cause it is usually worn by "popular woman" (if you understand what I mean).

Mrs. Anny was the one who told me to improve my English. It was also strange to me, because at that time I did not know that the English I learned from my mother would be something valuable for me in the future.

Mrs. Anny was my teacher. I said was because she already passed away in 1992 (if I am not mistaken) when I was in junior high. She died because of the brain-cancer after previously left by her husband (for the same disease). I was touched when I came to pay my last respect for her. Not only because of her disappearance, but also because she apparently lived in a very shabby (sorry to say) house. How I had to sigh to see it.

My second outstanding teacher is Mrs. Yoyoh at junior high school. She taught Sundanese which is only given 2 hours a week, but she is more popular than math or science teacher. She was popular because she was severe. There was no bad kid in my school who was not scare of her. She liked to punch the bad kid and yelled at him or her.

I only taught by Mrs. Yoyoh on my last year. But it was a very unforgettable year. She often told us tales, which made us LOL (a really laughter out loud). But don't try to be undiscipline or she would punish you. I, myself was slapped by her when I forgot to wear my hat on ceremony day.

I like Mrs. Yoyoh not only because of her stories, but also because I always get 9 for my sundanese. Of course that was because my ability, not because her slap on my cheek ...

My favorite teacher in senior high school was the one and only Mr. Bimo Prakoso. He taught chemistry (big surprise, huh?). I was charmed by his brightness (he is totally smart!!) so I learned hard for chemistry. It is extremely a MUST to like the teacher to be able to master the knowledge .. I have proven that ...

Mr. Bimo was an ordinary man (in appearance) but very extraordinary in science and knowledge. When he talked, no one would say or look other way but to listen to him carefully. He was a magnet. He was our clown (coz all of his stories are funny - guaranteed). He was like encyclopedia (coz all of his knowledges made us all stunned).

Unfortunately, Mr. Bimo was no longer with us. He only taught us 1 or 2 years. But still, he is one of the brightest person I ever seen in my life.

In the university, unlike other friends, I adore a severe lecturer. She was hated by many persons because of her cruelty. She was Madame Oom. I could not tell you here how a lot of my friends hated her because of something that I also could not tell here. What I'm gonna tell you is her special thing that made me admire her.

Like you already knew (maybe) I really give a big respect to those who have vast knowledge. Mme. Oom is one of them. She is really bright. Totally smart, and I like the way she conduct the teaching situation, although sometimes she was annoying .. upps!!

Those people I write here are the most unforgettable teachers in my life. It does not mean that I ignore the others, but you see, to be remembered by your students, you must be unique, fresh and extraordinary.

I am a teacher now. I just hope that one day one or two of my students (hopefully all .. hehe) will remember me as I remember my former teachers now.

The question is:
Will they remember me as unforgettable teacher in positive or negative mean?

Haha ..



There are two big things that I thought about lately. One, is the announcement for S2 in UPI (which I hope for so much), and two, is two months-late of my period which led to a test pack (which made my heart beating faster). fiuuuh ...

There is one thing I want to buy, badly. That is books (which you all may figured out). After several times I manage and re-manage my bookshelves, I came to a conclusion that I do, running out new books to read.

There is one thing I must do as soon as possible. This might be everybody's nightmare (at work), that is : making book or module. Arrrgh ...

There is one kind of food I will eat for lunch. One of them is fruit salad or 'rujak', this is maybe due to the late of my "period" (or maybe this is just my imagination; coz like it or not, I always eat ... )




I'm exhausted .. really ..

Pagi ini saya sudah hariweusweus berangkat pagi-pagi dengan tujuan kampus tercinta. Jam tujuh teng saya sudah siap di depan gedung pasca sarjana. Dengan semangat sembilan-puluh-tujuh (saya angkatan 97) saya bergabung dengan lautan manusia yang mencari-cari ruang ujian.

Di ruangan saya ada kira-kira 25 orang. Ruangannya bagus en nyaman. Saya pikir langsung 'teng' eh taunyaa masih nunggu sampe jam setengah delapan. Tau gitu saya cari sarapan dulu, walhasil sepanjang ujian perut saya dangdutan.

Sang pengawas tak lain dan tak bukan adalah dosen saya tercinta. Ah senangnya lihat madame Iim. Jadi pede rasanya, :P.

Pas membagikan soal dan kertas LJK, sempet-sempetnya dua kali Madame Iim membujuk saya untuk mengubah pilihan ke jurusan kami. Hihihi .. lucu juga, berkali saya mengatakan;
"Desolee, madame .. sekarang ke anglais dulu ya .."

Soal ujian pertama bahasa inggris 60 soal dalam waktu 1,5 jam. Ternyata semua jurusan mendapat soal tes yang sama. Entah gimana penilaiannya. Saya jadi senyum-senyum, soalnya tipe soalnya sama banget ama yang sering saya kasih ke anak-anak murid. Teks semua, cuma tingkat kesulitannya aja yang berbeda. Jam sembilan saya sudah selesai (nyombong ... hehe) tapi ternyata harus nunggu sampe 09.30. Padahal ga tau deh bener engganya jawaban saya.

Pas waktu istirahat saya bergegas ke bawah mau cari makan, waktu yang dikasih cuman 15 menit saja. Di tangga (berhubung lift amat sangat ngantri) saya ketemu Monsieur Riswanda, dosen saya juga. Beliau tak ingat siapa saya, tapi pas saya sebutin "Saya Irma, pak.." dia langsung melotot,
"Ngapain kamu ke bahasa Inggris??"
Waah .. curiga nih jangan-jangan keputusan saya "membelot" sudah sebelumnya dibicarakan di ruang dosen.

Tes kedua is a disaster. Haha. Ga persis seperti itu sih. Cuman masalahnya tes kedua adalah Tes Potensi Akademik, yang di dalamnya itu salah satunya ada ... yak betul!! matematika sodara-sodara ..

Matematika-nya sih sederhana, tapi karena kapasitas saya yang pentium 2 ini jadinya lemooot banget. Mana diwaktu lagi. Huu .. ternyata yang merasa begitu bukan saya aja, terbukti waktu pengawas bilang waktunya habis, banyak teman-teman seruangan yang pada protes. Abis rata-rata sudah langkung senior sih ... :D

Untuk peserta jurusan non-bahasa, ini adalah tes terakhir. Tapi untuk orang-orang bahasa ada wawancara pada jam satu. Maka bergerombol kembalilah kami para orang-orang "berkebutuhan khusus" ini.

Dan bagian inilah yang paling bikin saya puyeng. Jumlah peserta untuk bahasa inggris ada sekitar seratus-an (kalo ga salah saya menghitung) ruang wawancara hanya ada dua, plus untuk pelamar s-3 lama sekali mereka diwawancara. Wajar sih karena calon mahasiswa s-3 harus menyertakan proposal disertasi, jadi langsung dibahas. Sampai-sampai saya kepikiran jangan-jangan langsung bimbingan bab 1 hehe.

Ternyata yang pembelot bukan cuma saya. Tadi saya temukan ada anak Jepang, HI dan ekonomi. Ah, senangnya sesama kaum minoritas.

Dosen saya tadi, Pak Riswanda ternyata bolak balik karena beliau pun mewawancara yang prancis. Sambil mondar-mandir, dia narik-narik saya;
"Ayo Irma .. ke ruang sebelah .."
Maklum kelas wawancara prancis sebelahan.

Ketika tiba giliran saya (jam 15.30, setelah nunggu, dari jam satu) , saya sudah siap dengan pertanyaan jackpot itu.
"Why don't you go to french, it's next door .."
Huahh .. susahnya meyakinkan orang-orang kalau saya memang ingin ke bahasa Inggris (dulu).

Coba cermati kalimat tanya ini:
"How do you learn English, you are not from English department?"
"Well, I learn it autodidactically .." (jawaban saya)
Penguji diam. Mungkin ingin saya jawab lebih banyak.
Saya ngoceh.
"Have you ever joined English course before?"
"No, sir." (emang harus gitu??)
"So how do you possibly learn it? Is there someone in your family taught you?"

Kenapa sih satu topik aja sampe banyak gitu pertanyaannya?
Can they just judge me? I answered them in English. Not in French.

Tapi saya pikir saya sudah save sampai sana. Ndilalah, ada pertanyaan:
"Do you know what is the latest updated highlight in English teaching?"
Dengan pedenya saya bubbling mengenai .. bla .. bla ..

Dan dengan pandangan menusuk si penguji mengatakan;
"No, you don't know .. the latest updated is writing based .."

Huh bodohnya hamba ini ya Allah. Bukankah setiap hari kasih latihan teks sama anak-anak di sekolah, tentu saja it's all about writing competence!!

Bodoh .... bodoh ... bodoh ...

Jadi perasaan saya tadi rasanya de-ja-vu ke jaman sidang. Saya yang suka sok pintar, ngerasa bisa jawab .. padahal salah ..

Anyway, saya sudah berusaha kan. Allah saja yang menentukan.

mmh ...


Keinginan saya untuk sekolah lagi sudah tak terbendung. Rindu sekali rasanya duduk mendengarkan dan memperhatikan dosen. Sudah terlalu lama saya ngoceh di depan orang lain, sudah waktunya saya mendengarkan orang lain.

Setelah dapat lampu hijau dari salah satu atasan (jangan heran ya, atasan saya banyak), akhirnya saya mengunduh formulir untuk pendaftaran. Salah satu persyaratannya adalah : harus ada rekomendasi dari dosen yang mumpuni. Atas saran seorang teman, saya menelepon salah satu profesor yang juga orangtua salah satu murid di sekolah saya. Teman saya bilang, beliau pernah memberikan rekomendasi kepada salah satu guru bahasa Inggris di sekolah kami.

Tapi saya terpaksa kecewa. Beliau tak mau memberikan rekomendasinya. Saya mengerti. Beliau tak mengenal saya. Padahal jelas-jelas dalam kertas rekomendasi itu diminta untuk menuliskan berapa lama si pemberi rekomendasi mengenal si subyek.

Tapi yang saya sayangkan adalah beliau seperti meragukan saya. Karena saya mengambil jurusan yang berbeda dengan jurusan di S-1 saya. Ah .. mungkin ini hanya persepsi, tapi kalau sudah begini saya jadi gemes. Saya jadi ingin berusaha sungguh-sungguh supaya lulus. Saya ingin membuktikan pada beliau bahwa saya sanggup lulus dan sanggup bersaing dengan orang lain.

Hari ini, setelah mendapat rekomendasi dari dosen saya tercinta, saya memasukkan formulir pendaftarannya. Tes-nya tanggal 15 April.

Hanya satu yang saya harapkan; mudah-mudahan soal matematika-nya bener-bener sederhana. hehe.

So wish me luck everyone ...


Dulu, ketika saya belum berjilbab dan masih kecil, saya suka ribet lihat orang pake kerudung. Apalagi yang panjang. Kelihatannya gerah banget. Setelah saya pake jilbab, malah nyaman banget. Ga usah ribet ngurusin rambut (makanya sebelum pake jilbab saya sebel sendiri karena jadi perempuan tuh suka dikomentarin gaya rambut).

Fase pembelajaran agama bagi saya dimulai ketika masuk ROHIS di SMA. Tak berarti saya ga belajar agama. Dari kecil saya sudah belajar ngaji ke mesjid deket rumah, tapi ya itulah , kurang ngena, mungkin karena masih kecil dan suruhan orangtua.

Waktu saya di rohis (namanya KARAMA) SMA, saya jadi anggota paling aneh. Gimana engga, akhwat yang lain kalem-kalem dan ga pernah mandang lawan bicara yang ga sejenis (laki-laki maksudnya, bukan jenis jin). Kalo saya, yah banyak omong dan saya suka penasaran kalo ngomong sama ikhwan yang nunduk-nunduk terus. Apa nyari uang yang jatoh kali ya? Gitu pikiran saya waktu itu.

Kalo saling memanggil, mereka pake istilah ana dan antum. Pertama kali saya bingung. Kenapa banyak sekali orang yang namanya Ana? Ga kreatif banget deh orangtuanya.

However, dari teman-teman disanalah saya banyak mendapat ilmu. Dan merekalah yang saya kagumi. Usia masih muda tapi ibadahnya melebihi orang yang sudah tua. Prestasi? jangan tanya deh, semua teman-teman akhwat saya di rohis masuk 10 besar di kelas mereka.

Masuk kuliah, lebih dahsyat lagi. Secara, saya ketemu dengan lebih banyak lagi orang sholeh. Apalagi kampus deket banget ama Daarut Tauhid. Rasanya hidup saya waktu itu kalo diibaratkan filem kartun dikelilingi sama bunga-bunga. Indah sekali. Walaupun diri ini masih 'slebor' hihi .. tapi saya selalu merasa orang-orang sholeh itu menerima saya apa adanya.

Dari semua pengalaman itu, saya jadi terbentuk menjadi orang yang ehem lumayan faithful. Di kelas Prancis 97, teman-teman sepertinya menganggap saya punya komitmen yang lebih terhadap Islam. Bener banget. Walo daku masih 'metal' tapi juga religius. Mantaff ga tuh?? (mohon maaf kalo agak narsis).

Akhirnya dimanapun saya berada, saya suka ingin mewarnai orang dengan keyakinan saya. Tentu dengan koridor-koridor tertentu. Saya bukan termasuk orang ekstrem yang maksa atau militan (naon seeh??). Saya ya saya apa adanya. Tapi mungkin dengan keberadaan, gaya dan cara berpakaian saya saja orang sudah mengerti.

Tapi anehnya beberapa waktu terakhir ini kok saya jadi rada apatis yah? Saya mencoba merunutnya. Dulu ketika bergaul dengan orang sholeh saya suka terkagum-kagum. Akan saya tulis kata-katanya, saya ingat kalo bisa saya contoh. Saya senang kalo ada orang yang sanggup memberikan pencerahaan pada orang lain dengan disertai dalil-dalil Qur'an maupun Hadits. Rasanya, subhanallah .. saya mah masalahnya datang dari latar belakang yang amat umum. Jadi bayangkan seorang movie mania yang ketemu langsung sama Steven Spielberg, atau seorang persib-mania yang ketemu langsung sama Zaenal Arif. Seorang penggemar musik ketemu David Foster. Seperti .. ah sudahlah.

Entah kenapa (sebetulnya saya tahu kenapa tapi rasanya enak kalo memulai dengan'entah kenapa'), saya jadi sering bertemu dengan orang-orang yang menurut saya latar belakang agamanya edun banget tapi kenapa yah, kok saya ga tersentuh dengan ucapan mereka.

Ketika mereka mengurai agama dari berbagai sudut pandang, dari bermacam kitab entah kuning entah putih, saya tak bergeming. Rasanya kok kayak nonton film yang blur. Saya mencoba untuk bersikap objektif. Saya berfikir apakah karena ada perasaan pribadi? Ah, engga juga. But Why?

Saya entah kenapa suka merasa mereka seperti membodohi. Walau apa yang mereka sampaikan saya yakin itu benar, tapi mengapa saya tak tersentuh seperti ketika batin saya melembut karena muhasabah Aa Gym dengan kata-katanya yang amat sangat sederhana itu.

Plus, ada salah seorang teman yang juga berlatar belakang agama membuat saya tertohok. Dia bilang dia tak suka perempuan berjilbab. Dia ingin punya istri yang tak berjilbab, yang tahu kapan waktunya pake kerudung dan tidak. WHAT???

Saya bukannya benci sama non-jilbaber. Saya orang dengan open-mind. Saya terbuka. Tapi mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya, saya reuwas. Dia kan pesantren-an, dia tahu ilmu agama. Entahlah.

Mungkin memang saya aja yang ekstrem. Masa kayak gitu aja dipikirin. Sah-sah aja sih itu kan pilihan. Hidup ini pilihan. Akhirnya saya menerima fakta bahwa hidup kan berwarna-warni. Tak perlu dikotak-kotakkan. Betul juga kata dia, tak perlu pake jilbab untuk bisa sholeh, toh masalah ketakwaan Allah SWT yang menilai. Tapi dia juga lupa bahwa jika seorang perempuan muslim sudah sanggup menutup auratnya, maka dalam satu hal ia telah menutupi dirinya sendiri dari dosa.

Ah .. ga tahu deh, yang pasti saya jadi makin apatis. Kenapa sih orang-orang yang notabene berilmu agama kayak gitu?? Apa jadinya saya yang awam ini? Mengapa kalian tak bisa menjadikan diri kalian contoh??

Mengapa kalian berkoar-koar tentang ayat, hadist tapi diri kalian sendiri menyakiti orang lain??

Saya pernah disakiti orang berilmu tinggi. Setiap kali si orang itu menyampaikan suatu pencerahan batin saya menjerit "Lalu kenapa kamu berbuat begini sama saya?? Makan aja tuh ayat!!!!!"

Sahabat terdekat saya mengatakan,
"Jangan gitu dong. Jangan kamu salahkan semua orang dengan ilmu agama tinggi, tak semuanya begitu. Abi (yah .. ketauan deh sahabatnya siapa) sering kok ketemu sama orang sholeh yang baik, rendah hati .. bla bla bla"

Tentu saja saya tak main pukul rata. Saya tidak men-generalisir. Saya yakin masih banyak orang sholeh yang hebat. Yang tak sekedar ngomong. Yang benar-benar mengamalkan ilmu yang mereka miliki.

Ah, andaikan orang-orang yang membuat saya kesal ini tahu betapa berharga apa yang mereka punya. Betapa dekatnya mereka dengan para nabi, karena merekalah penerusnya. Betapa masih banyak orang di luar sana yang belum tersentuh, masih menunggu hidayah datang. Sementara mereka ..

Ah, saya bingung. Maka, biarkan saya dalam fase ini dulu. Pasti saya melangkah ke fase berikutnya nanti.

Tenang saja, saya belum berubah kok. I am still that faithful person.


Ceritanya suami saya mau reunian lagi sama teman-teman SMA-nya. Kenapa saya bilang lagi, karena mereka sempat ketemuan kira-kira sebulan yang lalu, tapi karena belum lengkap semua jadi mereka memutuskan untuk reuni-an lagi.

Tempat reunian di Bandung. Tadinya mau di Jakarta, tapi entah kenapa jadinya di Bandung (alaah .. lagian saya juga ga mau ikut campur :) ). Tempatnya kalau bisa harus deket dengan jalan TOL supaya orang-orang dari luar kota gampang nyarinya.

Suami saya akhirnya memutuskan Warung Ibu Kadi sebagai tempat ideal. Pertama karena lokasinya di Pasteur, kedua karena makanannya enak. Sabtu siang kemarin ia mengajak saya untuk survey ke sana, waaaah tentu saya tak nolak, walopun suami sudah wanti-wanti, supaya saya ga terlalu banyak mesen makanan, maklum budget kami lagi pas-pasan.

Setelah lihat-lihat menu (bertiga; abi, saya dan aisha), saya akhirnya memilih nasi goreng spesial dengan isi ayam, udang, sosis, baso. Pertama, karena pas mau milih gurame ternyata harganya sekarang 54.000, kedua karena saya laper, jadi kayaknya nasi goreng spesial bisa memuaskan seleraku (atau perutku??).

Nasi gorengnya enak. Tapi saya langsung berkomentar sama suami saya,
"Jangan jadi bi, reunian di sini."
"Loh, kenapa?" tanya suami saya.
"Porsi nasi gorengnya dikit." kata saya sambil menyuap banyak-banyak.
Sontak ia tertawa. Saya cemberut deh jadinya.

Semua orang yang mengenal saya tahu saya makannya banyak. Dihitung-hitung dalam sehari saya makan antara 4-5 kali. Walaupun si abi badannya jauh lebih besar tapi makannya teuteup saya yang paling gedhe (bangga).

Rasanya kebiasaan (baca= rewog) ini sudah dimulai dari semenjak saya remaja. Waktu SMP, saya ingat ketika harga semangkok bakso langganan di rumah itu 1000 perak, saya selalu mesen 2000. Kalo bikin mie instan, saya pasti bikin 2 ditambah telor dan nasi. Saya selalu nyureng kalo ada yang minta. hehe.

Teman-teman se-geng menjuluki saya si "double action" gara-gara kalo jajan bakso mie-nya diganti indomie dua bungkus (percaya ga?) dan setelah habis saya pasti mesen basonya aja (lagi).

Waktu masuk SMA, tau sendiri kan suka ada ospek-nya. Waktu itu kami disuruh meminum habis satu gelas berisi bubur kacang ijo yang lebih banyak airnya ketimbang kacang ijonya. Ada sekitar 6 atau 8 orang teman perempuan saya yang ga habis. Padahal kalo ga habis, kami sekelas bakalan dihukum sama kakak-kakak senior yang sok galak itu (Ah .. masa-masa indah ..). Akhirnya saya menolong teman-teman dengan menghabiskan semua bubur kacang ijo tadi. Glegh .. sampai sekarang saya masih ingat betapaa kembungnya perut waktu itu.

Ajaibnya, semua makanan yang masuk (paling banyak lemak) tak membuat saya membengkak. Saya ceking-ceking saja. Kisaran 45 - 47 kg dengan tinggi badan 160 cm. Sekarang aja saya rada gendutan, 58 kg. Itu pun sudah senang, walaupun orang melihatnya masih ideal-ideal aja.

Ketika 3,5 tahun memakai kawat gigi pun dokter gigi saya mengakui bahwa saya adalah salah satu dari sedikit pasien-nya yang tidak mengalami gangguan makan. Tahu kan, kalo orang pake behel biasanya males makan akhirnya mengurus. Saya sih memang dasarnya kurus tapi makan jalan terus. Yeah !!

Jadi, kembali ke restoran Bu Kadi tadi. Setelah menamatkan nasi goreng aduhai itu, saya mengakui dengan malu-malu pada suamiku, bahwa; I'm still hungry!!

Akhirnya sore itu saya makan martabak manis dan makan malam lagi di rumah. Tak lupa ngemil silverqueen chunky bar.

Buku dan makanan. Mmmh .. dua hal favorit dalam hidup saya. Disekap di kamp konsentrasi pun jika dilengkapi dengan timbunan benda-benda tersebut rasanya saya betah deh.

Tapi tentu saja yang menyekap saya bukan Hitler. Tapi orang-orang sholeh yang mengajarkan ilmu sama saya biar saya jadi pinter.

Sambil makan, boleh kan??