twitter


Sentiment est une chose estrange .. l'emotion est une autre chose ...
Quand ils se reuniont, c'est la consequence ..

Blesser ...

Je ne peux pas expliquer cette situation. Ce que je veux? sais pas ...

je veux une chose, regardez-moi .. regardez moi et comprenez-moi, s'il vous plait.

vous devez comprendre, une coeur de la femme. tres fragile ..

tout est complique .. je veux revenir a des jours avant.

quand les temps semblait plus facile.

et tu m'aime encore ...



Sejak awal saya kuliah S2, saya sudah tahu diri. Jurusan S1 saya bukan pendidikan bahasa Inggris, otomatis saya tidak akan sebagus mereka yang dari jurusan itu dalam banyak hal. Tapi saya selalu punya keyakinan jika saya berusaha keras pasti saya akan mampu menyamai mereka.

Hari ini keyakinan itu sedikit menguap. Seorang makhluk Allah yang membuatnya runtuh. Ada seorang dosen yang menurut saya, ia tidak menyukai saya. Entah kenapa. Saya sudah berulangkali berpikir apa kira-kira kelemahan saya (yang memang banyak ini) yang membuatnya selalu bersikap sinis di kelas. Setiap kali saya berkontribusi di class discussion,ia pasti akan mencecar saya dan membuat saya merasa amat bodoh. Namun setiap kali pula saya berusaha meyakinkan diri saya sendiri bahwa itu tidak benar. Tidak mungkin ia tidak menyukai saya (sementara banyak orang di luar sana yang sehari saja tidak bertemu saya pasti kangen). Halaah.

Siang tadi saya sudah yakin benar bahwa ada sesuatu dalam diri saya yang ia benci.

Perkuliahan dengannya sebenarnya sudah berakhir, namun nilai tak kunjung keluar. Ternyata ia menganggap hampir semua paper yang sudah kami kerjakan tidak memuaskannya hingga ia meminta satu kali lagi kelas tambahan untuk memberikan koreksi atas hasil kerja kami.

Maka berbondong-bondonglah kami semua menuju ruangannya. Setelah mengulas salah satu paper teman saya yang menurutnya bagus sekali, ia menawarkan untuk membahas paper masing-masing secara personal. Karena ingin cepat beres, saya langsung minta detik itu juga untuk dikoreksi olehnya bersama 4 teman lainnya. Sisa kelas pun pulang.

Satu demi satu mahasiswa dikoreksi secara langsung olehnya. Karena kami ada di ruangan yang sama, otomatis kami bisa dengan jelas mendengar feedback yang ia berikan. Ada sekitar 6 atau 7 orang di ruangan itu tadi siang.

Ketika tiba giliran saya, alih-alih memperlihatkan bagaimana benernya, ia langsung melontarkan kalimat pertamanya dengan:

"Kamu sebaiknya pindah jurusan aja, atau kuliah S1 lagi jurusan Bahasa Inggris ..."

Seketika ruangan jadi hening. Saya serasa tidak berpijak ke bumi. Dari awal saya sudah dapat menduga bahwa ia akan bersikap negatif pada saya (dikarenakan sehari-harinya juga begitu) tapi saya tidak menyangka "serangannya" akan sedahssyat itu. Rasanya seperti ada bom pecah di telinga saya.

Ia kemudian mengatakan dengan terang-terangan bahwa grammar saya sangat jelek, tidak tertolong lagi hingga ia heran kok bisa-bisanya saya mengajar Bahasa Inggris di tingkat SMA.

"Saran saya, kamu pindah jurusan ke Prancis, pasti kamu bisa cum laude. Kalau kamu masih bertahan di Inggris, saya khawatir kamu akan terseok-seok mengejar yang lain. Kamu lulusnya pasti lama, sudah banyak terbukti kok, yang dari jurusan non-inggris itu sampai bertahun-tahun di sini, bisa-bisa 10 tahun kamu baru lulus ..."

Bisa Anda bayangkan rentetan kalimat seperti itu dilontarkan oleh seorang dosen terhormat bergelar profesor, disampaikan di hadapan umum? Saya serasa bukan manusia, harga diri saya terkikis habis olehnya, saya dibuatnya merasa jadi manusia paling bodoh yang ada di dunia. Padahal saya ga bodoh-bodoh amat, grammar yang ia keluhkan itu saya sudah dapat hasilnya, meski tidak A tapi lumayan saja, B-.

Saya akui grammar saya tidak bagus, oleh karenanya lah saya semangat sekali kuliah ini. Mengejar ketinggalan jadi prioritas utama saya, tapi mbok ya dia tuh nyadar dong; dengan mengatakan begitu ia telah mematikan semangat saya, membunuh intelektualitas saya.

Saya memang tidak banyak bicara tadi. Saya terlalu 'shock' untuk berdalih atau menyanggah. Dan ia memang tipe orang yang tidak suka disanggah. Bisa dikatakan ia orang 'besar', kabarnya sudah banyak sekali korban kezalimannya; jadi apa artinya seorang saya ini?

Terus terang sekarang saya dilanda krisis percaya diri. Dan,(harus diakui) cemas. Saya khawatir karena ia jenis orang yang keinginannya selalu dituruti orang, saya cemas jika saya nantinya akan terus-terusan menjadi 'target operasi'.

Namun dengan menabahkan hati, saya menguatkan diri sendiri dengan mengatakan:

Dia boleh jadi berkuasa, namun Allah yang memilikinya, Allah yang lebih berkuasa,

maka Allah saja lah penolong saya ..

Amin.


Semenjak saya kuliah lagi, tentu banyak hal yang berubah. Dari mulai serabutan mengatur jadwal sampai jam tidur yang berubah tidak karuan karena tuntutan tugas yang menumpuk. Hasilnya, saya jadi pecandu kopi, hiks .. demi untuk bisa begadang.

Dari semua mata kuliah di semester satu yang saya ikuti, ada 2 matkul yang saya takut gagal. Yang pertama EFL - English as a Foreign Language Methodology dan Grammar. Matkul yang pertama sebenarnya tidak begitu sulit, asal mau baca dan mengerjakan tugas, aman. Namun si dosen yang mengajar matkul itulah yang buat saya selalu deg-degan, karena beliau sangat subjektif orangnya, dan saya rasa ia tidak menyukai saya. Fiuuuh ...

Grammar lain lagi ceritanya. Ini matkul susah, meski saya akui grammaire prancis berlipat kali lebih susah dari Inggris, karena struktur bahasanya yang bujubuneng bikin rieut. Namun grammar di S2 ternyata bukan hanya pendalaman, tapi nyebur. Asli, saya yang modal grammar-nya nyomot sana-sini dibikin pontang-panting mengejar pemikiran dosen, Professor Amin yang kalem tapi sadis.

Setiap pertemuan, kami sudah harus siap dengan bahan yang akan beliau ajarkan. Artinya, minimal kami sudah harus membaca buku. Tidak aneh sebenarnya karena semua matkul mensyaratkan seperti itu. Masalahnya, sudah baca pun kami belum tentu mengerti, dan di kelas Pak Amin akan dengan suksesnya membantai opini-opini kami. I have to admit, bahwa beliau adalah salah satu dosen paling cerdas yang pernah saya kenal. Dengan usia yang masih muda untuk ukuran profesor (40-an saya kira) dia memiliki kepandaian dan intelejensi tinggi.

Selain class discussion, ada 4 progress test yang harus kami lewati. Inilah mimpi buruknya. Di kelas saja saya masih terbengong-bengong, apalagi disuruh mengerjakan soal yang terkadang susah banget (padahal jawabannya ternyata sederhana) atau soal yang saya kira mudah (padahal naudzubillah susahnya).

Saya menilai diri saya bisa mengikuti arus, meski tertatih-tatih. Kalo diibaratkan lari marathon, saya ada di deretan tengah. Saya sering diskusi meski terkadang harus saya akui, lebih banyak ngacapruknya dibanding benernya. Saking pesimisnya dapat nilai bagus, saya dan tiga orang teman sampai bernadzar akan memberi makan 20 orang anak yatim jika kami mendapat nilai B.

Singkat cerita, begitu nilai keluar, betapa suka citanya saya karena nilai saya B-. Meski ada minusnya, tapi bagi saya itu besar banget. Bangga saya karena dapat menaklukan grammar Pak Amin, ha ha. Motivasi sebenarnya sih saya ogah ngulang lagi tahun depan jika saya gagal. Belajar grammar bersama Pak Amin merupakan kenangan manis yang takkan mau saya ulangi. Hihihi.

Tapi alangkah kagetnya kami ketika beberapa hari kemudian sang dosen tercinta mengirimkan SMS yang intinya memberitahukan bahwa nilai kami semua dianggap gagal dikarenakan ada beberapa mahasiswa yang berbuat curang pada saat ujian.

Terbayanglah saya betapa malasnya jika harus mengulang tahun depan. Kalau tidak malu rasanya pengen nangis karena mendapat B- saja saya rasanya susah banget.

Ketika kami menemui beliau untuk minta konfirmasi, makin kaget saya karena ternyata ada beberapa mahasiswa yang merasa tidak puas dengan nilainya dan mengadukan kecurangan yang mereka katakan terjadi pada saat ujian.

Perasaan saya otomatis kesal. What's the matter with them? Kenapa pake lapor segala sih? Saya hargai kejujuran mereka dan mungkin mereka merasa tidak diperlakukan secara adil, namun look what they have done now. Saya kok jadi merasa balik lagi ke SMA, karena rasanya mengadu itu kerjanya anak kecil. Mungkin.

Saya tidak menutup mata, bahwa memang ketika ujian, bisik-bisik tetangga memang terjadi. Menyontek, mungkin saja. Tapi karena saya merasa semua orang sudah dewasa dan sanggup mempertanggungjawabkan perbuatan masing-masing jadi ya sudah. Toh dalam hal ini Pak Amin sebagai dosen juga telah memberikan banyak peluang untuk itu. Yang pertama, setiap kali ujian kami melakukan bersama (sekitar 80 orang, 4 kelas) dengan jarak kursi yang berdempetan. Kedua, (ini yang aneh) kami diminta untuk saling mengoreksi kertas jawaban. Artinya, perbuatan nyontek maupun saling membetulkan sangat mungkin terjadi. Dan saya heran mengapa Bapak tidak memperkirakan itu.

Saya yakin, seyakin-yakinnya semua orang tahu mengenai hal itu. Bagaimana tidak, peluang untuk curang banyak sekali. Giliran dapat nilai jelek, baru mereka complaint. Padahal saya yakin nilai B- yang saya dapat tidak mungkin murni dari ujian (karena nilai ujian saya biasa2 aja) melainkan sudah akumulasi dari keseluruhan performance saya selama satu semester.

Anyway, untuk dapat nilai lagi, beliau meminta kami semua untuk membuat pengakuan. Apakah kami berbuat curang atau jujur. Setelah itu barulah akan diadakan tes ulang. Ini yang bikin sakit kepala.

Saya pikir (di luar kenyataan bahwa memang kejujuran sangat penting adanya) ini terlalu over acting. Si pengadu maupun Bapak. Tanpa mengurangi rasa hormat (karena hingga kini saya masih menganggapnya sebagai dosen luar biasa), seharusnya Bapak bisa lebih bijak dalam mengambil tindakan. Bapak dan kami semua seharusnya introspeksi bersama. Karena masalah ini tidak dapat dilepaskan dari peranan kita semua.

Kemarin-kemarin saya masih kesal. Sekarang, entahlah .. saya belum tahu hasilnya.


Judul di atas tentu akan mengingatkan kita semua akan 3 hal penting yang konon wajib dimiliki seorang ratu kecantikan dari mulai gadis sampul hingga Putri Indonesia bahkan Miss Universe. Seorang wanita yang dikatakan 'cantik' tidak hanya bermodalkan jidat licin dan wajah menawan tapi juga berotak encer dan berperilaku baik.

Yang akan saya ceritakan di sini bukanlah mengenai kontes-kontes yang kadang-kadang saya suka bingung apa-sih-pentingnya itu, tapi mengenai pengalaman saya menguji calon guru beberapa hari yang lalu. Ya, sekali lagi yayasan tempat saya bekerja itu membuka kembali rekrutmen guru demi meningkatkan profesionalitas kinerja kami. Hadaah.

Berbeda dari tahun sebelumnya ketika saya mewawancara para calon guru semuanya, kali ini saya (selain membuat soal) berkesempatan untuk menguji presentasi makalah mereka. Mekanismenya adalah enam orang secara dipanelkan mempresentasikan makalah mereka dan dilanjutkan dengan tanya jawab dengan para penguji.

Di ruangan saya ada dua kelompok yang kami uji. Kelompok pertama tidak masalah, dalam artian proses tanya jawab berlangsung normal dan lancar. Pada kelompok kedua ada seorang calon guru yang mungkin selamanya akan membekas di benak saya karena B yang terakhir, sikapnya.

Dari segi penampilan dan tampang, ia memenuhi kriteria yang pertama. Ia menarik. Oh ya saya harus memberitahu bahwa ia perempuan. Kemudian untuk kriteria yang kedua pun dia oke. Kebetulan ia melamar posisi guru Bahasa Inggris, dan kemampuannya saya nilai bagus.

Tentu Anda sudah dapat menebak apa yang terjadi. Sayang seribu sayang, ia tak memiliki kriteria terakhir, yaitu behavior atau sikap. Tidak akan saya beberkan di sini detailnya, yang pasti dari pertama ia kami uji, kami dapat melihat dengan jelas sifat macam apa yang ia miliki. Tidak kooperatif, agresif dan tidak menerima pendapat orang adalah hal-hal yang saya cantumkan di lembar penilaian.

Pada akhirnya, saya menyayangkan sikapnya itu. Karena seandainya dia tidak begitu, mungkin saya akan langsung merekomendasikannya dikarenakan kemampuannya yang bagus.

Yah, memang jarang yang punya 3 kriteria itu. Kalau semua orang punya, tidak terbayangkan oleh saya betapa banyaknya orang yang melamar jadi putri Indonesia.


Last month I watched this interesting film that I've been searched for a while. It was a touchy story entitled "August Rush". In the very beginning of the movie, the narrator said about how all souls in this world gathered in the sky and then God just send them one by one to parents on earth. Those souls became a baby that planted in a womb of women.

The opening of that movie made me wanna laugh and cry at the same time. This was exactly how I felt when I was a little. I used to think that God would planted me in different womb, another home.

It is not your fault if you don't agree with me. I know I am wrong. I have carried this burden for as long as I live. Maybe you all had a choice. But I don't. I never had any choices.

I know that choosing parents is definitely impossible. That is not a kind of privilege God would give to us. I, never question The Creator, until today. Just say that I am in the insanity-zone right now. Mind my thoughts.

But, as everybody said; God never wrong. It is us who's wrong. It is me who's insane. This is just another test. Again and again. I always sought for Your mercy Allah ...

So this is what you called, bad example of a divorce. Once you married, means that you are willing to take care of your offspring, not only your spouse. You can't just walk away after what you did, just because "some problem that your childen would not be able to understand".

I don't blame my parents to decide what they had decided. Maybe they would not be happy if they still stuck together. But I deserve for a choice, alright?? I was not asking for this, even in my teenage life when everything seemed so normal and forgiven. What if I am not happy with it? Have they been thinking about it?

I do have problems with the old woman now. I did have problems with her since I was grown up. And again, I asked myself same question; don't I have choice?


I have a confession to make. Je deteste ma mere. I have tried to understand her for years. Never make it up. Dunno who's fault or why. Maybe it is my fault. And definitely my sins. Islam taught me to respect her, not to say something that would hurt her.

Est-ce que J'ai la chance de raison? I guess I have. Quand mes parents etaint separer, I supposed to have choice. They supposed to give me choices. I was just a little people, for God sake. Je ne jamais demander pour etre au monde.

And when now she is stubborn and make me feel like in hell (though never been there), who's fault is that? Again, mine ..

God, I wish I could be someone else. I've pictured that since I was been able to imagine. Or else, I prefer to be no one. Just none. No exist.

Wish could be like everybody else. I wish I can blame God for this.

And I did blame God tonight.

Forgive me Allah, for I have sins ...


Nampaknya sebagian besar remaja di tatar Sunda ini semuanya penyayang binatang. Hal ini dapat saya pastikan karena mereka selalu menyertakan nama binatang kesayangan mereka ke dalam setiap ucapannya. Anehnya, si binatang kesayangan itu sama jenisnya. Saya tidak tahu apakah pengetahuan mereka soal binatang begitu sempitnya hingga hanya satu nama ini saja yang secara spesifik mereka ucapkan. Saya tarik kembali kalimat saya tadi, bukan remaja, melainkan sebagian besar orang pada umumnya, tua maupun muda, meski harus saya akui, remaja adalah segmen yang mendominasi.

Si binatang istimewa ini tak lain dan tak bukan adalah anjing. Saya tidak tahu untuk kota-kota lain bagaimana, yang saya tahu anjing hanya dipakai untuk makian, namun di Bandung ini dan juga kota-kota lain di seantero Jawa Barat ini ya seperti itu tadi.

Edunnya lagi, kata "anjing" dapat difungsikan sebagai kata apapun - halaah inget kuliah Pak Amin jadinya -

- menjadi objek = "Rek kamana, anjing?"

- menjadi pelengkap subjek = "Anjing, aing mah kamari ..."

- menjadi penegasan = "ari maneh, anjing?"

- menyatakan keheranan = "naha bisa kitu, anjing?"

- menyatakan kekaguman = "anjing ... eta mah alus pisan euy .."

dan tentu saja

makian.

Tapi maaf saja saya takkan memberikan contohnya di sini.

Saya pikir saking banyaknya fungsi yang dapat dipakaikan pada kata ini seharusnya para Grammarians - seperti Prof. Amin dosen saya - dapat memberi nama tertentu padanya.

Tentu saja saya tidak serius. Saya menulis ini karena sudah muak dengan orang-orang yang sering sekali 'berhubungan intim' dengan anjing. Man, what's the matter with them??

Sayangnya anjing tidak bisa bahasa manusia. Kalau bisa ia pasti sudah protes, kenapa namanya dipakai secara tidak proporsional begitu. Ini sama saja dengan bahasa Inggris, dimana kata "dog" - atau "dawg" dalam lafal slank - dan kata "bitch" seringkali dipakai dalam percakapan.

Apa sih salahnya para anjing?

Bukankah manusia yang seharusnya lebih bisa mikir. Akal kan diberikan pada kita. Ga ngerti saya (geleng-geleng kepala - sok bijak).

Saya bayangkan, seharusnya anjing protes dan mengajukan mosi pada komisi entah-apa-gitu-yang-mengurusinya tentang pencemaran nama baik.

Dan meskipun anjing tak bisa ngomong, saya yakin kalau ia ngerti ia pasti setuju dengan saya.

Betul kan, anjing?

P.S mohon maaf untuk contoh-contoh kalimat di atas jika sedikit 'blak-blakan'