twitter


Bagi yang sudah membaca tulisan saya sebelumnya pasti sudah tahu betapa semangatnya saya kuliah. Bahkan mata kuliah anfullen (bareng anak S1 karena jurusan saya yang ga linear) pun oke-oke aja.

Namun nampaknya dua minggu terakhir saya jadi tumpul. Alih-alih semangat belajar malah terus menerus kesal pada diri sendiri karena ga ada keinginan belajar. Gara-garanya, cuma satu orang.

Saya orangnya memang ceria dan pede abis. Semua orang sudah mafhum. Namun sesungguhnya, jiwa ini rapuh (treng .. treng .. pake background lagu melow). Saya orang yang sangat sosialis (bukan yang itu, tapi), maksudnya senang berhubungan dengan orang banyak. Maka, jika ada orang yang jutekin saya, weis mati-matian saya ga bisa tidur dibuatnya.

Yang sekarang bermasalah ga tanggung-tanggung. Dosen sodara-sodara. Yak, betul, orang yang saya dengarkan kuliahnya dan yang akan memberi saya nilai nanti.

Awalnya, si dosen (kita sebut saja si X), biasa saja. Saya anggap ia baik dan lembut. Cara mengajarkannya pun enakeun. Saya suka kalau dia sudah menerangkan karena gayanya yang khas. Namun, 2 minggu belakangan ini entah KENAPA dia berubah (setidaknya menurut saya) kepada diriku ini.

Setiap saya ngomong (di kelas selalu ada diskusi) dia selalu memotong dan mengkritik. Herannya, kepada yang lain dia ga gitu. Gimana saya ga bingung coba?

Satu per satu saya putar ulang rekaman di otak saya. Apakah ada kata-kata atau tindakan saya yang dinilai minus olehnya?

Weleh, saya tidak tahu.

Pada pertemuan terakhir, entah kenapa saya merasa ia sudah menyiratkan alasan ketidaksukaannya pada saya. Sepertinya ia menganggap saya orang yang terlalu over-PD yang merasa paling bisa, padahal engga.

Onde mande .. tuesday ..

Kok bisa??

Apakah karena saya memang pede? Atau terlampau sering nyeletuk?

Haruskah saya pura-pura gugup dan malu-malu ketika akan presentasi?

Ah, kalau memang begitu alasannya (mungkin ya, kan belum tentu) alangkah piciknya ia.

Mengapa oh mengapa ia lakukan itu?

Tak tahukah ia, bahwa ia baru saja melakukan pembunuhan karakter terhadap saya? Karena sekarang di setiap kelasnya saya diam dan merasa sangat tak nyaman karena seolah ia selalu menyindir saya dalam setiap ucapannya.

Memang tak mungkin berharap pada manusia yang sama-sama suka lalai dan egois.


1 komentar:

  1. mungkin iri kali teh,dulu waktu beliau kuliah g terlalu talkactive hehe...(eits harus khusnudzon ya....)