twitter


by Irma Susanti Irsyadi on Thursday, September 23, 2010 at 9:25pm

Human's life cannot be separated from prejudice. Prasangka tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Dan ini wajar, karena prasangka bisa kita jadikan hipotesa awal untuk menilai suatu masalah. Setelah hipotesa didapat, baru kita bisa mengujikannya ke dalam sebuah tindakan yang pada akhirnya akan memberikan kita kesimpulan akhir. Ujung-ujungnya masalah terselesaikan. (Maaf, sedang menderita pre-thesis writing syndrome :D)

Masalahnya, asumsi gampang sekali dibuat. Terlalu gampang malah. Penampilan adalah sesuatu yang sangat mudah menimbulkan asumsi. Seseorang yang berpenampilan compang-camping akan langsung kita kategorikan sebagai makhluk tak beruntung (yang mungkin tidurnya di kolong jembatan dan makannya sehari sekali itupun kalau ada). Padahal konon katanya banyak juga orang yang berpura-pura lusuh untuk melancarkan profesinya sebagai pengemis misalnya (ini katanya lho).

Seorang remaja yang wajahnya dipenuhi tindikan (piercing) biasanya kita tuduh sebagai anak nakal yang "berasal-dari-keluarga-broken-home-dan-hidupnya-ga-karuan". Padahal mungkin saja si remaja nge-fans sama orang India yang hobi ditindik dan sukanya goyang-goyang kepala itu (acha .. acha ..).

Terlalu gampang dan terlalu sering manusia membuat asumsi. Mungkin sudah kodratnya kita untuk senang menilai dan "melabeli" segala sesuatu. Dan tidak cukup begitu; kita juga terkadang merasa perlu untuk membubuhi label yang sudah kita lekatkan biar mantap. Padahal tanpa kita sadari (atau malah sering sadar tapi pura-pura ga sadar) kita juga emoh dibegitukan sama orang lain.

Dulu saya suka keuheul ke yang namanya supir angkot. Udah mah suka berhenti di mana aja tanpa aba-aba, ngetemnya lama dan kalo kejadian celaka sering ga mau disalahkan (pengalaman pribadi). Rasanya setiap kali lihat sopir angkot labelnya adalah "tukang serobot". Sampai akhirnya saya membiasakan diri untuk duduk di depan samping pa kusir.. eh .. pak sopir maksudnya, karena kalau duduk di belakang sering mulek sama asep rokok. Gara-gara sering duduk di depan saya jadi sering ngajak si bapak sopir ngobrol. Dari obrolan mereka, saya jadi tahu bahwa memang hidup mereka penuh dengan perjuangan. Mulai dari setoran yang-gak-mau-tau-gimana-caranya mesti mereka setorkan setiap hari. Para preman yang suka seenaknya minta uang sampai para penumpang yang bayar ongkosnya kurang.

Dulu juga saya suka keuheul kalo liat pengamen. "Nih orang kan masih bisa kerja ya", begitu dalam pikiran saya. Padahal ternyata "siapa sih yang mau jadi pengamen??" pasti mereka juga kalo ada pilihan tidak akan memilih untuk seperti itu.

Manusia itu memang riweuh dan senang me-riweuh-kan (urusan) orang lain. Sudah mah bikin asumsi, udah gitu merasa bisa berbuat lebih baik dari yang sudah dilakukan orang lain.

Seberapa sering sih kita mengatakan : "Coba mun kieu mah ..."

atau

"Mun saya mah nya .."

atau

"Euuh .. salah sih .. bukan gitu .. coba kalo saya yang ..."

atau

"Sebenarnya sih bisa kalau .... gimana sih, nu kitu wae teu bisa .."

Kalau lihat pertandingan bola , ada aja orang yang suka ngomel-ngomel ketika si pemain gagal meng-golkan bola.

"Euuuh .. belegug pamaen teh .. goreng pisaaan" (pengalaman tetangga)

Padahal kalo kita jadi pemain bola belum tentu bisa lebih baik dari si pemain yang kita caci maki.

Itu baru pemain bola, yang mungkin bukan siapa-siapanya kita. Mencaci juga karena saking intensnya kita nonton.

Terkadang kita berbuat begitu juga ke orang-orang yang dekat dengan kita. Dengan sok taunya kita (atau saya; bisi ada yang ga ngerasa hehe) suka merasa bisa berbuat lebih baik dibanding orang lain, bari jeung da can pernah dilakonan ku urang oge.

Kita terkadang lupa bahwa kita seharusnya belajar "melihat dari sudut pandang" orang lain. We need to view from other's perspective. Be in her/his/their shoes.

Kita tidak akan bisa bekerja lebih baik dari orang lain jika melulu kita memakai 'kacamata' pribadi. Mun teterusan maunya menyalahkan dan tidak-mau-tahu-alasan-kenapa-orang-berbuat-seperti-itu, kita akan tumbuh menjadi manusia yang ga banget. Kurang peka, kurang menghargai, kurang etika, kurang ... kurang .. asyeeem.

Ada sebuah film berjudul "In Her Shoes" yang menceritakan dua orang kakak beradik yang berbeda karakter. Keduanya saling membenci satu sama lain, tidak pernah akur. Setelah melewati serangkaian konflik akhirnya mereka belajar untuk memosisikan diri masing-masing menjadi yang lain. Jadi si adik bisa merasakan perasaan kakak-nya dan begitu sebaliknya. Hingga endingnya adalah mereka mampu memahami satu sama lain dan tak pernah cekcok lagi.

Persis seperti itu.

Ketika saya marah-marah pada anak-anak dan menurut saya "kenapa sih anak-anak teh meni hese dipapatahan" berarti saya lupa bahwa saya pernah jadi seorang anak. Saya juga akan sebel kalo dibegitukan sama ibu saya. Siapa yang ga keuheul kalo digelendeng terus. Ketika saya kesel sama murid karena kalakuan mereka, sesungguhnya saya sedang bercermin pada kelakuan saya bertahun-tahun lalu ketika seusia mereka.

Coba bayangkan jika semua orang mampu memandang dari sudut pandang orang lain. Rasakan bagaimana susahnya jadi orang lain. Pahami jalan pikirannya. Sadari bahwa kita tidak lebih baik dari orang lain. Kita kan selalu merasa lebih karena kita tidak dalam posisi yang sekarang. Kita mungkin merasa lebih baik ketimbang tukang bangunan misalnya. Padahal kalo kita jadi tukang bangunan, mungkin gedungnya ga akan selesa-selesai kita bangun, karena kita ternyata (misalnya) lebih bodoh dari tukang bangunan lainnya.

Kalo ingat program student exchange atau pertukaran pelajar, saya jadi suka ka-ide-an.

Bagaimana yah kalo setiap orang bisa bertukar peran dalam kehidupan?

Supaya pada akhirnya kita bisa mengatakan:

"OH IYA YAH, TERNYATA SUSAH JADI SI ANU .. DAN SAYA TIDAK LEBIH BAIK DARINYA."

Dan kita akan lebih bijak lagi memandang hidup ini.

Wallahu'alam.



by Irma Susanti Irsyadi on Thursday, September 16, 2010 at 7:26pm

Salah seorang paman saya ada yang pindah domisili ke daerah kampung. And I'm talking about real village. Dulunya beliau bekerja, namun selepas pensiun dari pabrik (dimana anak buahnya banyakan sarjana, sementara sang paman cuman lulusan SMP), kabarnya paman jadi petani saja.

Awalnya saya pikir kabar itu dilebih-lebihkan. Saya tahu paman (atau Mang Acep, panggilannya) seorang pekerja keras, namun tak terbayang kalau ia memegang cangkul di tangan. Pindahnya beliau sudah lama, namun saya belum sempat mengunjunginya. Akhirnya siang tadi sampailah saya di rumah Mang Acep di kampung itu.

Kampungnya bernama Pasirlangu. Dari belokan Cisarua arah SPN (Sekolah Polisi Negara) belok kiri. Dari situ saya pikir udah deket taunya Masya Allah masih jauh sodara-sodara. Saya ketawa-ketiwi di perjalanan karena rasanya seperti menuju lokasi kemah alam yang biasa dituju anak-anak Asih Putera setiap tahun. Turun, naik, nanjak, mudun. Turun motor masih jalan lagi jauh ke bawah. Dan inilah dia si kampung misterius yang didiami mang Acep.

Wah ternyata mang Acep memang sudah hijrah jadi orang kampung asli. Saya terkaget-kaget melihat rumahnya yang terbuat dari bilik, beralaskan palupuh atau lantai papan. Dapurnya malah cuma tanah. Bukan berarti saya belum pernah lihat rumah panggung, hanya rasanya aneh membayangkan si Emang yang saya kenal tinggal di situ. Yang paling edun, rumahnya tak punya kamar mandi, jadi kalo mau pipis atau BAB mesti ke walungan di bawah. Eksotis pisaan. :P

Ngobrol dengan mang Acep lebih seru lagi. Suami sampai merod ingin tinggal di situ. Saya sih oke, tapi bagian ke WC nya itu tak usah lah yaw. Mang Acep punya lahan yang lumayan luas, ditanami waluh, cabe, tomat, leunca, jagung, hui boled, singkong dan padi. Jadi kalau untuk makan sehari-hari tak usah lagi pusing mikir, tinggal ngala leunca jadilah karedok. Bosen makan nasi, tinggal bakar jagung atau singkong atau hui boled. Jangan berpikir mang Acep kaya dengan banyaknya sayuran yang sering ia panen (karena ternyata waluh itu panennya 2 hari sekali), karena tetap saja petani menjual murah hasil produksinya ke tengkulak. :(

Namun setelah ngobrol, saya jadi tahu bahwa tengkulak-lah yang pertamakali memberi modal pada para petani, sehingga petani mau tidak mau harus menjual hasil panen mereka pada tengkulak. Harganya juga sudah ditentukan. Murahnya ga kira-kira. Dua pohon cengkeh milik mang Acep ditawar 5 ribu (untuk diambil semuanya) untung mereka ga mau ngasih, wah kabayang eta cengkeh loba pisan ngan lima rebu, kacidaaa.

Di daerah situ ternyata banyak anjing. Saya hitung ada kali 7 ekor mah. Bibi bilang anjing-anjing itu suka dipake moro atau berburu bagong/babi hutan. "Loh emang masih ada bagong?" saya tanya. "Nya lobaa atuh di luhur-luhur mah" jawab bibi. Subhanallah .. serasa dimana gitu. Dan yang lebih heboh pas saya tanya dikemanakan si bagong hasil buruan, dengan sedikit berbisik bibi mengatakan, "Nya dipeuncit wee .."

Weleh, weleh. Kagak ngarti sayah. Kenapa pula orang-orang masih menyantapnya (eh orang tertentu maksudnya, nanti disangka generalisasi lagi), jadi inget OBELIX temennya ASTERIX yang suka banget makan celeng panggang, halaaah. Mang Acep bilang orang situ gengsinya tinggi, biarpun hidup seadanya tapi mereka pengen makan selalu dengan daging, jadina daging naon we disikat. Aya careuh (sejenis musang) nya dimakan, aya biawak oge dihajar. Mang Acep bilang sering ditertawakan ketika orang melihat mang Acep cuma makan dengan lejet (hidangan dari waluh).

Tapi yang bikin saya terharu, bibi mengaku ia bahagia tinggal di situ. Paling tidak bibi ga usah pusing dengan makan, karena makanan tersedia banyak, asal mau nerima apa adanya. Huuh .. dasar bibi bikin saya jadi ga enak hati, karena masih amat sangat duniawi diri ini.

Selama berkunjung ke sana, kami diajak berkeliling memutari lahan milik mereka, nyabutan sampeu, mungutin tomat dan jeruk nipis. Setiap bertemu orang, pasti langsung disapa dan ditawari membawa sesuatu. Senangnya .. dasar orang kampung pengennya gotong royong teruus, beda ama orang kota pengennya individualis wae (seperti sayah misalnya hehe).

Pulangnya kami dibekali dua karung sayuran. Teu sirikna sadayana dibahankeun. Jadi enak .. hehe

Di perjalanan saya jadi berfikir, alangkah sederhananya hidup jika sudah tidak membutuhkan apa-apa. Cukup apa yang dipakai dan apa yang dimakan. Zuhud dan qona'ah meureun nya nu kitu teh.

Wallahu'alam.

NB.

Baru inget satu lagi cerita mang acep, yaitu org kalo pindahan ternyata rumahnya diangkat ke truk dan dipindahkan ke tmpt yg baru, dengan begitu pengeluaran biaya bisa ditekan tapi resikonya genting pararepeus ... Huahahaha .. Kabayang ngangkut imah, keren kayak di luar negeri aja mindahin rumah pake helikopterm


by Irma Susanti Irsyadi on Wednesday, September 8, 2010 at 8:41pm

Beberapa waktu yang lalu, masih di bulan Ramadhan, ketika sekolah belum libur, saya pernah mengisi kajian keputrian di sekolah. Awalnya materi saya adalah mengenai 'sex-education'; tentu bukan tentang "how to" (karena kalau itu baiknya kita serahkan saja pada guru biiologi) tapi lebih ke "What happen If", yaitu apa yang terjadi jika mereka melakukan "itu" sebelum waktunya. Ah sudahlah, tak usah bingung.

Keputrian yang awalnya hanya satu pertemuan akhirnya dilanjutkan menjadi dua kali pertemuan (kelas IX). Seru sekali ternyata membahas masalah perempuan dengan anak-anak perempuan, hingga akhirnya berujung pada kehormatan yang Allah berikan khusus untuk kaum kita, yaitu hamil dan melahirkan.

Tentu saja, untuk anak-anak usia segitu, penjelasan saya pasti mendebarkan dan mengerikan. Sampai-sampai di sela-sela ngadongeng, berulangkali mereka menukas, "Ya ampun bu, meni gitu2 teuing jadi perempuan teh .."

Namun pasti bagi kita yang sudah dewasa dan sudah melewati fase itu, istilah hamil dan melahirkan adalah biasa saja. Bahkan diantara kita mungkin ada yang sudah melahirkan lebih dari satu kali (saya contohnya hehe), dengan cara normal maupun khusus. Nevertheless, saya ingin berbagi dengan kita semua mengenai ini, karena baru saja saya membaca status teman saya yang sedang hamil, dan sedang begitu repotnya dia hingga lemas.

Saya pikir perempuan manapun pasti akan senang ketika dinyatakan hamil. Meski mungkin untuk beberapa orang merasa terkejut karena merasa belum siap atau apapun, namun cepat atau lambat Anda akan jatuh cinta kepada si makhluk yang berkembang di dalam rahim Anda, betapapun ia akan membuat Anda mengalami morning-siickness di pagi hari, sehingga apapun yang Anda telan, pasti akan Anda keluarkan lagi.

Si makhluk yang belum jelas ini akan sering membuat Anda mual,dan (mungkin) merasa tidak cantik lagi. Saya pernah mengatakan pada murid2 saya betapa cepatnya fisik wanita berubah. Tak membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membuat seorang wanita 'berubah' hanya cukup sekali hamil dan kemudian melahirkan. Isn't that so?

Wanita hamil memang berbeda-beda, semuanya mendapatkan cobaan dan harus melakoni perjuangan yang berbeda-beda. Bagi saya, 3 kali pengalaman itu mungkin tidak terlalu berat dibanding perempuan lain. Namun saya tahu ada banyak perempuan yang sangat payah sekali proses kehamilan sampai melahirkannya. Ada orang yang saya dengar malah harus diinfus sejak hamil hingga usia kehamilannya mulai besar ketika ia sudah mampu menelan makanan tanpa memuntahkannya. Tentu kita tidak dapat memilih, karena semua Allah yang memilihkannya untuk kita.

Nah, ketika Anda merasa sudah lebih enakan untuk makan, jangan harap Anda bisa bernafas lega, karena si kecil sekarang sudah sangat pandai menendang. Terkadang saking dahsyatnya, tendangannya bisa kerasa sampai ke ulu hati. Seringnya kita merasa bahagia, bahkan kita akan bercerita pada siapapun mengenai tendangan-tendangan itu. Bahkaan orang-orang yang kita kenal akan dengan senang hati memegang perut kita hanya untuk merasakan tendangan si kecil. Tapi bayangkan bila di malam hari, ketika mata Anda sudah ingin terpejam namun ia masih ingin bermain-main dengan Anda, tendang sana-tendang sini (mungkin dia pikir badan kita ini layaknya lapangan futsal indoor yang dapat disewa sepanjang waktu), walhasil (seperti pengalaman saya dulu) bukan tidur yang kita dapat melainkan sakit pinggang dan insomnia.

Tubuh kita makin lama makin ga jelas bentuknya. Kalau ditanyakan ke guru matematika, mungkin mereka akan bingung menentukan nama untuk bentuk tubuh wanita hamil. Disebut silinder bukan, prisma ga mirip, jajaran genjang apalagi. Beberapa bagian tubuh juga sudah menunjukkan "pengkhianatannya" kepada kita. Tidak usahlah saya sebutkan di sini, pasti pada ngerti.

Makin besar, makin susah. Sering ingin pipis, karena kandung kemih sudah terdesak oleh si kecil yang sudah kita sebut bayi. Pandangan kita sudah mulai terganggu, karena ketika melihat ke bawah, bukannya kaki yang kelihatan malah gundukan besar layaknya drum yang kita bawa kemana-mana.

Mendekati waktu melahirkan semakin kacau saja. Rasanya mulas ingin ke WC dan mulas kontraksi sudah tak dapat dibedakan. Begitu datang ke RS, rumah bersalin atau bidan, belum tentu kita akan langsung melahirkan dalam 5 menit. Mungkin kita akan diminta untuk jalan2 dulu dengan alasan melancarkan keluarnya si bayi, padahal rasanya batin ini sudah ingin menjerit, ingin segera semuanya selesai.

Ketika orang lain bisa dengan gampangnya bilang "Ya udah atuh, tinggal ngeden aja .." Oooh kita amat sangat tahu bahwa kenyataannya tidak segampang yang dikatakan. Mengejan itu ternyata susah saudara-saudara. Ketika keringat mulai bercucuran, nafas mulai tersengal-sengal, dan mulut rasanya ingin menjerit karena rasa sakit yang tak tertahankan. Di sinilah peran pendamping hidup amat menentukan. Kita butuh seseorang di sana (suami, ibu atau siapapun karena terkadang ada juga yg tdk membolehkan orang melahirkan ditunggui) untuk menyemangati kita, untuk menghapus peluh di kening kita, untuk menenteramkan kita dengan membisikkan beruntai-untai dzikir di telinga kita, karena luar biasa sekali ternyata godaan untuk jejeritan itu.

Mata murid-murid saya terbelalak waktu saya ceritakan itu semua. Bisa saya bayangkan betapa mengerikannya pengalaman model begitu untuk mereka. Tapi saya akhiri dengan mengatakan "Tak ada kebahagiaan yang paling indah bagi seorang ibu selain melihat wajah bayi yang baru saja ia lahirkan."

Semua keluh kesah, semua rasa sakit, semua kegelisahan dan kepenatan, semuanya musnah. Rasanya kita rela untuk melakoni lagi seluruh proses rangkaian perjuangan itu, ketika kita menatap wajahnya. Wajah bayi kita. Buah hati kita. Makhluk yang selama ini hanya mengganggu hidup kita. Tak ada. Tak ada rasa marah atau kesal. Yang ada hanya cinta. Kita cinta padanya.

Tentu teman-teman hapal betul dengan pahala yang bisa kita dapatkan jika kita mampu melewati perjuangan kita sebagai wanita itu semasa hamil hingga melahirkan, pahalanya sama dengan orang yang pergi berjihad dalam keadaan berpuasa. Subhanallah ...

Dan jangan berfikir perjuangan berakhir ketika kita melahirkan. Masih terbentang jutaan episode kehidupan kita bersamanya. Masih lama baru akan kita mereguk apa yang Allah janjikan pada kita, yaitu SURGA.

Dan anak-anak kita akan memuliakan kita tiga kali lebih tinggi dari mereka memuliakan ayah mereka.

Sungguh teman, kita-lah yang diberikan keagungan oleh Allah SWT ...

P.S : Teruntuk teman sma-ku Ratna Juwita; teman semasa di UE Ratna Sari Dewi; teman kuliah pasca Nadya Nitiswari; dan teman di skul Nawwira Kifliyah

dan untuk semua teman yang pernah hamil, ingin hamil, sedang mengusahakan hamil, ingin hamil lagi dan semua wanita lah pokoknya.

Hanya kesabaran-lah yang kita punya ...


by Irma Susanti Irsyadi on Monday, July 5, 2010 at 7:16pm
Once I knew a guy. When I was just a kid, he was already grown up but it didn't stop me to had a crush on him. The reason was so simple, he was a very well-built man and he won almost all the sport championship in the neighborhood. I was a kid, lots of reading princess stories with a shiny knight riding silver horse and everything. So, at that time, he was totally awesome (for me).

When I grown up to be a clumsy teen, I was seeing him differently. At that time, he was no longer a stranger but soon we became friends, even though he was much older than me. He was no longer my shining knight but only regular drunken late-teenager who tried so hard to find his self-esteem and show his pride to anyone by doing many ridiculous things. So when he showed his feeling, I was no longer interested, and the picture of my heroic-figure shattered.

Things that caused me hurting him was something I cannot share here, I just did. I immediately found out that he was not going to forgive me at once. But I still kept in my memory the image of him as my "shining knight" until now (a slight of childhood memories).

It was years ago but I can feel that hurt now because I met him this morning.

I know that he worked as a parking guy, still in the same neighborhood. Whenever I pass the street, I can see him clearly, even though times has changed him a lot. I often smile when I remember my feeling for him as a tiny girl.

This morning, my husband has something to do in that neighborhood, and we parked in that place. I hate to admit but I was little bit disoriented when we pulled over. I was afraid that he would not recognize me and even worse, he would not want to know me anymore.

I knew from a glimpse of my eyes that he was watching us. I was pretty sure that he realize my existence. I tried to smile when our eyes met, but he turned away. I was shocked, not that I did not expect that coming. And probably that because of my appearance too. Maybe I was not the same again, the same little girl he knew once. Maybe I was just another stranger to him.

But, for some reason; I know that he still knows me. He was ignoring me.

I was sorry for him, I was sorry for myself, cause there are things that aren't meant to be broken. Maybe the times cause it. Maybe the changes in human being cause it. I wish he know that one casual smile from him would be enough. Enough for me to know that he has forgiven me, it was all over (beside it was just a small problem) and we all are grown-up persons now.

The story of him is just an episode of the entire screen. There are some relationships that made me feel sorry. I am sorry that I could not mend them to be in one piece again. No matter what. I wish I know how to put back pieces of puzzles that can make the whole picture complete.

This morning, I felt that I have to whisper to the whirl of wind;

"I am really sorry for things that are not meant to be broken ..."


Bukankah kita semua hidup di balik topeng?

Topeng yang kita hias seindah-indahnya dengan tingkah dan tutur kita?

Andaikan topeng itu terlepas,

takkan ada yang sudi melihat wajah kita sekalipun ...


this is a story of a broken heart ..

when a heart feels tired of trying and trying

things that do not even worth

alone

thingking

what next?


Saya sedang mencoba menamatkan "The Lord of The Rings" versi asli. Meski bahasanya 'ajaib' karena jadul abis namun tetap coba dinikmati. Bayangkan aja ada kata model "yonder" yang artinya "di situ", yang sekarang tak lagi dipakai dalam bahasa Inggris modern.

Dalam salah satu scene, Gandalf menyatakan kegemasannya dengan Hobbit dengan kalimat, (bukan aslinya, melainkan kalimat tafsiran saya)
"The knowledge of Hobbits can be learnt in a month, yet we are still amaze by Hobbits after years". Artinya kita bisa tahu segala sesuatu tentang Hobbit hanya dalam waktu sebulan saja (karena saking simple dan boringnya makhluk satu ini) namun Hobbit bisa tetap mengejutkan setelah waktu bertahun-tahun.

And there goes the same with human being. Bedanya, mempelajarinya lama, memahaminya lama, dan tetap mengejutkan. Terkadang kita merasa sudah sangat mengenal seseorang, eh ternyata tetap aja kita terkejut dengan perubahannya. Atau pada kasus saya, berusaha memahami orang bertahun-tahun lamanya, namun tetap tak bisa dimengerti.

Saya merasa saya sudah berusaha memahaminya sepanjang hidup saya. Well, sebenarnya itu terlalu berlebihan juga, karena dikurangi masa kecil saya, sekitar 10-12 tahun, berarti 20 tahun saya mencoba memahaminya. Anehnya, hingga hari ini, saya belum juga sukses menebak apa yang ada dalam benaknya itu.

Sedih memang, karena ia termasuk orang yang tak mungkin saya tinggalkan. Blood is thicker than water, begitu kan katanya. Lebih hebatnya lagi, ia seharusnya adalah orang yang paling saya hormati di dunia ini, kata Agama.

Yet, saya masih merasa jauh darinya. Apakah saya kurang berusaha? Atau (menurut egonya saya) dianya aja yang terlalu ndablek untuk membuka hatinya? Entahlah, yang penting saya tahu bahwa semakin banyak beralasan tidak menjadikan solusi.

Saya sering bertanya-tanya; naha nya kieu-kieu teuing atuuuh. Setiap hari saya lelah berusaha mengartikan setiap kalimatnya, setiap gerakan tubuhnya, sambil terus bertanya-tanya; "What's next?"

Rasanya setiap hari ada saja kejutannya. Kalau jadi pesakitan yang disetrum di kursi listrik, mungkin saya udah mati berkali-kali kali, halaah. Padahal sejujurnya dari dalam hati, sudah sangat berusaha diri ini melakukan berbagai hal untuknya, meski dengan cara sederhana.

Dan berkali-kali pula saya bertanya;
Sampai kapankah ...