twitter


Saat ini entah kenapa saya sedang ingin bercerita tentang seorang asing yang pertamakali saya kenal secara dekat. Ia sudah tak ada lagi, meninggal sekitar tahun 2001.

Saya mengenalnya di penghujung 1998. Saya bekerja padanya di sebuah lembaga pendidikan. Badannya tinggi besar, cenderung obesitas. Kesenangannya akan makanan dan minuman yang manis-manis yang membuat berat badannya tak pernah turun.

Sebagai orang asing, ia tak pernah makan makanan Indonesia. Bukan karena sok, tapi perutnya tak kuat menanggung cita rasa makanan kita yang sangat 'spicy' itu. So, makanannya rata-rata junk food. Restoran favoritanya adalah arbys di Dago.

Pada saya ia mengaku beragama Zoroaster. Waktu itu saya tidak begitu mengerti. Tapi ia menerangkan bahwa agamanya itu penggabungan antara ajaran Yesus, Muhammad dan Buddha. Bingung kan??

Ketika masih tinggal di USA, dia pernah berprofesi sebagai policeman. Entah kenapa setelah pensiun malah memilih untuk melanjutkan kuliah, melanglang buana, menikahi gadis Filipina dan mendirikan lembaga kursus di Indonesia.

Satu hal yang membuatnya mirip dengan orang Indonesia adalah ia tak mau mengeluarkan banyak uang yang tidak terlalu penting. Saya tak mau bilang dia pelit tapi memang untuk urusan birokrasi, dia lebih suka ngeles atau menyuap pegawai rendahan pemerintah untuk memuluskan jalannya. Mirip kan dengan orang Indonesia?

Ada lagi; ia sangat suka pada anak-anak. Ada beberapa kali kesempatan ketika ia keluar bersama kami untuk sebuah keperluan. Ketika di jalan ia melihat ada pengemis yang membawa anak kecil, ia akan serta merta meminta anak tersebut. Padahal kami tahu di rumahnya, selain anaknya sendiri, ia punya sekitar empat orang anak angkat.

Bagaimanapun, ia adalah orang asing pertama yang secara intens berinteraksi dengan saya. Saya banyak berbicara dengannya. Dialah yang sering memperkenalkan istilah-istilah 'slank' pada saya. Dia bahkan pernah mampir ke rumah saya dan makan bolu kukus yang disuguhkan mamah.

Maka, ketika saya mendengar kematiannya, saya cukup terhenyak. Ingin rasanya saya datang di hari pemakamannya, tapi apa daya waktu itu saya ada keperluan mendadak, dan mungkin aneh juga ketika dulu saya menghadiri kebaktian kematiannya.

Hari ini saya mengenangnya. Hari ini saya banyak mengingat-ngingat orang. Entah kenapa. Mungkin karena sedang malas mengerjakan soal latihan untuk murid-murid atau sedang tidak mood baca (pengen beli buku baru huuuu).

Dr. Logue (begitu kami menyebutnya; atau 'si bule' di belakangnya) pernah menjadi orang yang sering memberi saya saran. Pernah minta maaf pada saya yang meminta dia untuk tidak menyentuh saya seperti ia menyentuh pegawainya yang lain. Jangan salah paham, ia selalu merasa kami seperti anak-anaknya, jadi ia senang sekali menyentuh bahu atau menepuk-nepuk kepala dengan gaya kebapakan. Berhubung diantara semua pegawainya, hanya saya yang berjilbab, jadi hanya saya saja yang protes. Dan seperti layaknya orang asing yang sangat menghargai kebebasan orang, ia menghargai protes saya.

Dengan lidah bulenya itu, tentu banyak kata dalam bahasa Indonesia yang ia tak fasih (bahkan ia tak pandai berbahasa Indonesia, padahal ketika bertemu saya dia mungkin sudah di Indonesia sekitar 5 tahun-an).

Saya ingat jika hari gajian tiba. Di amplop saya, dia akan tulis "ERMA" karena baginya itulah penulisan untuk bunyi "IRMA", berapa kali pun saya protes, dia akan jawab:
"That's what I heard, all this time .. stop complaining .."

Atau, seperti ketika ia mengganti nama sopirnya. Sopirnya (pria Jawa yang ramah dan berpostur macho) bernama Bombom, saya rasa itu nama panggilan. Karena tak bisa mengucapkannya, ia kemudian menggantinya menjadi "Boomboom" dengan pelafalan Bumbum, oleh karena itulah kami memanggil sang sopir dengan sebutan "mas bumbum".

Suatu hari istri mas Bumbum melahirkan. Laki-laki, namanya Randiko, apa gitu. Lagi-lagi si bule berkeputusan bahwa anaknya mas Bumbum bernama "Randy" (dibaca: Rendi).

Tahukah ia, saya masih mengingatnya dengan baik?

0 komentar: